BRI

Strategi KUR BRI Katalis Pertanian dan Ketahanan Pangan Nasional 2026

Strategi KUR BRI Katalis Pertanian dan Ketahanan Pangan Nasional 2026

JAKARTA – Dalam upaya memperkuat produktivitas tani dan ketahanan pangan nasional, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menegaskan perannya melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang ditargetkan lebih dari sekadar solusi modal. Selama bertahun-tahun, fasilitas pembiayaan ini telah menjadi penopang usaha petani kecil sekaligus instrumen strategis untuk memperbaiki kesejahteraan keluarga petani, terutama di tengah tantangan modal kerja dan risiko produksi.

BRI dan Peran Strategis KUR pada Sektor Pertanian

Program KUR BRI kini dipandang sebagai jembatan finansial sekaligus katalis untuk kemajuan pertanian, terutama di era ketahanan pangan yang menjadi fokus pemerintah. Selama ini, akses modal menjadi salah satu kendala utama bagi petani tradisional, yang sering kali bergantung pada sumber pembiayaan tidak formal seperti tengkulak dengan bunga tinggi. Dengan KUR, tantangan tersebut mulai teratasi karena pembiayaan yang tersedia lebih terjangkau, transparan, dan berkelanjutan.

Misalnya, seorang petani padi sawah bernama Syiro Judin Abbas, Ketua Kelompok Tani Maju Rorotan di Jakarta Utara, merasakan langsung manfaat KUR BRI. Lahan sawah seluas 2,5 hektare yang dikelolanya kini berkembang berkat dukungan modal yang ia peroleh dari program ini. “Sejak memanfaatkan KUR BRI, usaha pertaniannya berkembang secara bertahap dan berkelanjutan.”

Bagaimana KUR Meningkatkan Produktivitas Usaha Petani

Dalam fase awal usahanya, keterbatasan permodalan membuat banyak petani bergantung pada tengkulak yang sering kali berujung pada lemahnya posisi tawar petani dan harga gabah yang tidak stabil. Kondisi ini secara langsung memengaruhi hasil akhir produksi dan pendapatan keluarga petani.

Dengan KUR, petani seperti Syiro bisa mengakses modal kerja mulai dari pengolahan lahan, pengadaan benih dan pupuk, hingga perawatan tanaman. Seiring waktu, plafon pinjaman yang diterima Syiro meningkat dari Rp8 juta menjadi Rp20 juta, menunjukkan bahwa kemampuan usaha juga bertumbuh seiring dengan pemanfaatan fasilitas ini.

Keberadaan pembiayaan ini menjadi sangat krusial terutama ketika petani menghadapi risiko eksternal seperti serangan hama dan penyakit tanaman, dimana keterbatasan modal sering kali menjadi kendala terbesar dalam penanganan cepat dan efektif.

Dampak Langsung terhadap Kesejahteraan Keluarga Petani

Lebih lanjut, pemanfaatan KUR tidak hanya berdampak pada usaha tani semata, tetapi juga pada kesejahteraan keluarga petani. Hasil pertanian yang meningkat memberi kapasitas kepada petani seperti Syiro untuk tidak hanya memelihara usahanya, tetapi juga menghidupi keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anak.

Inilah yang menjadi salah satu kekuatan KUR sebagai instrumen ekonomi mikro: selain memperluas akses permodalan, ia juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi keluarga di sektor pedesaan. Hal ini sejalan dengan peran BRI dalam membuka akses pembiayaan yang mudah diakses, tepat sasaran, dan berkelanjutan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pertanian.

Peran BRI dalam Perluasan Akses KUR di Sektor Produktif

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa KUR bukan sekadar produk pembiayaan, tetapi alat strategis untuk memajukan sektor usaha produktif, termasuk pertanian, yang merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Melalui kolaborasi intens dengan pemerintah daerah, kelompok tani, hingga penyuluh pertanian, BRI berupaya memastikan bahwa penyaluran KUR memberi dampak ekonomi nyata.

Data eksternal juga menunjukkan bahwa sektor pertanian menjadi kontributor utama dalam penyaluran KUR BRI, dengan jumlah pembiayaan yang sangat signifikan dibandingkan sektor lain. Misalnya, sepanjang 2025, lebih dari Rp80 triliun KUR BRI disalurkan ke sektor pertanian, mewakili hampir 45 persen dari total penyaluran KUR dalam periode tersebut.

Lebih jauh lagi, penyaluran ini secara konsisten meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penerima manfaat KUR, di mana sekitar 18 dari setiap 100 rumah tangga di Indonesia telah mengakses fasilitas tersebut pada akhir 2025, menunjukkan penetrasi yang semakin luas di masyarakat.

KUR BRI sebagai Pilar Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa

Melihat kontribusinya yang besar terhadap produktivitas pertanian dan kesejahteraan ekonomi pedesaan, tidak mengherankan bila KUR BRI dipandang sebagai pilar penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Dengan modal yang tersedia, petani menjadi lebih mandiri dalam merencanakan musim tanam, membeli input produksi, dan menghadapi risiko pertanian lainnya.

Selain itu, keberhasilan program KUR juga membuka peluang agar efek positifnya dirasakan lebih luas lagi dalam ekonomi produktif nasional. Hal ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk memperkuat sektor agrikultur sebagai bagian dari perekonomian inklusif yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, KUR BRI tidak hanya menjadi solusi jangka pendek atas keterbatasan modal petani, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index