JAKARTA - Bandung memiliki satu kolak legendaris yang selalu jadi buruan pemburu takjil di bulan Ramadan, yaitu Kolek Kalipah Apo.
Meski berjualan dari gerobak sederhana di Jalan Kalipah Apo, antrean pengunjung sering mengular bahkan di siang hari. Tak hanya warga Bandung, pembeli datang dari berbagai daerah untuk merasakan kelezatan kolak dan bubur manis yang khas.
Harga yang ramah di kantong, Rp13 ribu per porsi, serta porsi yang melimpah membuatnya tetap diminati dari generasi ke generasi.
Kolek ini bukan sekadar jajanan musiman, melainkan bagian dari tradisi kuliner yang bertahan sejak 1994. Didirikan oleh Popon, ibu dari Adam yang kini meneruskan usaha keluarga, kolak ini tetap mempertahankan racikan asli yang membuatnya konsisten digemari.
Enam Variasi Bubur Manis yang Bisa Dicampur Sesuai Selera
Di gerobak Kolek Kalipah Apo, tersedia enam varian menu yaitu kolak pisang, candil, hanjeli, labu siam, pacar cina, dan bubur sumsum. Pembeli bisa memilih satu jenis atau mencampurnya dalam satu wadah. Adam, penjual sekaligus putra pendiri, menyebut bubur lemu menjadi menu yang paling cepat habis.
"Menu ada enam macam, tapi bubur lemu habis duluan. Selain satuan, bisa juga dicampur," kata Adam.
Satu porsi dibanderol Rp13 ribu dengan isi melimpah, membuat pembeli sering membeli lebih dari satu porsi sekaligus. Bahkan ada yang membeli hingga sepuluh bungkus untuk dinikmati bersama keluarga atau teman.
Antrean dan Kesabaran Menjadi Bagian dari Pengalaman Berbuka
Pengalaman membeli kolak di Kolek Kalipah Apo tak lepas dari antrean panjang dan proses pembungkusan yang bertubi-tubi. Saat detikJabar memesan satu porsi kolak pisang, masih ada delapan pesanan lain di depan. Meski antrean terlihat singkat, pembeli harus sabar menunggu agar dapat menikmati kuliner legendaris ini.
Citra (29), warga Bojongloa Kidul, mengaku sudah menjadi pelanggan setia setiap Ramadan. Menurutnya, konsistensi rasa dan harga yang terjangkau membuatnya selalu kembali. "Isinya lengkap, saya paling suka sama pisang dan candil," ujarnya. Namun ia juga mengakui harus menunggu hampir 25 menit untuk pesanannya.
Julian (24), warga Garut, menyebut membeli kolak di sini bukan sekadar soal rasa, tetapi juga nostalgia.
"Dulu kan beli baju itu ke kawasan KINGS, pernah juga beli kolak di sini sama almarhum ayah dan ibu. Nostalgia banget, dulu sama orang tua suka beli kolak di sini, belinya dibungkus, nanti dimakan di rumah, kadang dimakan pas sahur," ujarnya.
Sejak 1994, Resep Keluarga Tetap Dipertahankan
Kolek Kalipah Apo bukan hanya sekadar jajanan, tetapi warisan keluarga yang terus dipertahankan. Adam telah membantu berjualan sejak lulus SMA, sekitar 20 tahun terakhir. Ia menyaksikan bagaimana racikan kolak keluarganya tetap dicari pembeli dari generasi ke generasi.
"Sudah ada sejak Tahun 1994. Pendiri Ibu Popon, beliau sudah meninggal," ungkap Adam.
Meski jumlah penjualan setiap hari tidak dapat dipastikan, Adam selalu menyiapkan satu stoples besar kolak untuk menghadapi antrean panjang. Tradisi menjaga racikan asli serta pelayanan yang ramah menjadi kunci agar usaha keluarga tetap eksis hingga kini.
Kelezatan Kolak dan Bubur yang Mewakili Kenangan Ramadan
Kolek Kalipah Apo berhasil menghadirkan enam varian bubur manis yang bisa dicampur sesuai selera, menawarkan sensasi rasa manis legit yang khas.
Dari kolak pisang hingga bubur sumsum, semua menu mempertahankan kualitas rasa dan porsi melimpah. Ini membuat setiap pembeli mendapatkan pengalaman berbuka puasa yang tak terlupakan.
Harga yang terjangkau, porsi melimpah, dan rasa yang konsisten menjadi alasan utama pengunjung tetap setia.
Kolek Kalipah Apo membuktikan bahwa kuliner legendaris bukan hanya soal rasa, tetapi juga tradisi, kenangan, dan kebersamaan yang tercipta di bulan Ramadan.