Tantangan Bisnis Properti Soloraya 2026: Lesu tapi Optimistis

Tantangan Bisnis Properti Soloraya 2026: Lesu tapi Optimistis
Pengusaha sektor properti di kawasan Soloraya masih menghadapi kendala berat sepanjang tahun 2026 ini. (Foto: NET)

JAKARTA — Pengusaha sektor properti di kawasan Soloraya masih menghadapi kendala berat sepanjang tahun 2026 ini. Merosotnya daya beli publik menjadi pemicu utama yang menekan angka penjualan, kendati pihak pemerintah serta perbankan telah memberikan bermacam stimulus guna menggenjot sektor properti.

Ketua Real Estate Indonesia (REI) Komisariat Soloraya, Oma Nuryanto, menyampaikan bahwa situasi pasar properti pada periode ini belum pulih sepenuhnya.

"Tahun ini sudah masuk kwartal kedua pada umumnya memang sangat-sangat menantang dari kondisi yang memang pada umumnya daya beli memang turun. Daya beli masyarakat turun kan ini. Penurunannya hampir 30 persen ya dibandingkan tahun kemarin," ujar Oma, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, pihak pemerintah sebenarnya sudah menyediakan sejumlah regulasi demi menopang industri properti tersebut. Disamping itu, pihak perbankan turut menghadirkan beragam opsi kredit dengan suku bunga yang kompetitif.

"Juga banyak gimik-gimik dari perbankan di mana ada bunga berjenjang sih yang tahun pertama empat persen, nanti tahun ketiga jadi tujuh persen, itu juga sebenarnya cukup membantu. Tapi sampai sekarang masih cukup menantang sih menurut saya pasar properti ini," tuturnya.

Meski demikian, Oma senantiasa optimis bahwasanya pasar properti bakal menunjukkan perbaikan tatkala mendekati penghujung tahun. Ia memandang bahwa momentum pencairan bonus serta tunjangan akhir tahun mempunyai potensi besar dalam mendongkrak daya beli warga.

"Kami optimis sih, optimis di akhir tahun biasanya naik. Karena dengan adanya THR akhir tahun. Itu salah satu untuk mendongkrak daya beli masyarakat. Jadi kami tetap optimis dengan situasi yang sangat menantang saat ini," katanya.

Di tengah situasi pasar yang belum stabil tersebut, hunian bersubsidi masih menduduki posisi sebagai segmen yang paling diminati oleh para konsumen di Soloraya. Untuk area pemukiman mewah, tingkat permintaan masih terpusat di kawasan Gentan, Solo Baru, serta Colomadu.

Sementara itu, pembangunan rumah subsidi banyak dieksekusi di wilayah Mojosongo, Jeruksawit, hingga area sebelah barat Waduk Cengklik.

"Pada umumnya kalau sekarang tren penjualan ya rumah bersubsidi. Kalau kantong perumahan di Soloraya ya Gentan, Solo Baru, Colomadu, yang kelas-kelas premium. Kalau rumah subsidi di daerah Mojosongo dan sekitarnya cukup banyak seperti Jeruksawit juga Waduk Cengklik ke barat juga," jelasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index