JAKARTA - Menjelang Lebaran 2026, arus logistik di Jawa Timur diperkirakan meningkat signifikan.
Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Jawa Timur memperkirakan lonjakan volume barang bisa mencapai 80 persen. Prediksi ini menunjukkan bahwa aktivitas distribusi barang tetap tinggi, terutama karena Surabaya menjadi jalur transit logistik menuju wilayah timur Indonesia.
Ketua ALFI Jawa Timur, Sebastian Wibisono atau yang akrab disapa Wibi, menyatakan bahwa peningkatan arus barang menjelang Lebaran terjadi hampir setiap tahun dan sulit dihindari.
“Kebetulan Nataru, Imlek dan Idul Fitri waktunya bersamaan, sehingga load-nya memang tinggi. Pas Imlek banyak impor turun ke sini, terus didistribusikan ke wilayah seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan,” jelas Wibi.
Peningkatan signifikan ini menjadi perhatian seluruh pelaku logistik dan pelabuhan, karena kapasitas pengelolaan barang harus ditingkatkan agar distribusi tetap lancar. Mengantisipasi kepadatan dan keterlambatan, strategi penanganan sejak awal menjadi kunci menjaga arus barang tetap stabil.
Strategi Antisipasi Pelindo Surabaya
Pelindo menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi lonjakan arus logistik di Pelabuhan Tanjung Perak.
Salah satu langkah penting adalah mengalihkan gudang yang biasanya digunakan untuk ekspor menjadi penampungan sementara barang impor. Langkah ini diambil melalui koordinasi dengan Bea Cukai, sehingga arus keluar masuk barang tetap berjalan lancar.
Selain itu, migrasi kontainer antar terminal juga rutin dilakukan untuk mengurai kepadatan di area pelabuhan.
“Setiap tahun selalu ada migrasi antarterminal, terutama untuk kontainer ekspor-impor. Di sini ada dua terminal utama, Terminal Teluk Lamong dan Terminal Petikemas Surabaya,” ujar Wibi.
Strategi ini memastikan kontainer tersalurkan secara optimal tanpa menumpuk di satu lokasi, sehingga pelayanan logistik tetap efektif.
Optimalisasi Sistem Operasi Terminal
PT Pelindo Terminal Petikemas juga menyiapkan langkah antisipasi dengan mengoptimalkan sistem operasi terminal.
Sistem ini mampu memprediksi kepadatan di dermaga (berth occupancy ratio) maupun lapangan penumpukan peti kemas (yard occupancy ratio). Dengan perencanaan sejak awal, pelayanan bongkar muat kapal peti kemas dapat berjalan sesuai jadwal tanpa gangguan.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menegaskan pentingnya pemantauan lapangan penumpukan peti kemas selama periode libur Lebaran.
“Kami melakukan antisipasi sejak awal, terutama untuk lapangan penumpukan agar lebih optimal dalam menampung peti kemas, karena kurang lebih selama 16 hari peti kemas ini akan berada di dalam terminal dengan adanya pembatasan angkutan barang,” jelasnya.
Dengan sistem operasi modern, pihak pelabuhan mampu menyesuaikan layanan dan mengurangi risiko keterlambatan. Hal ini menjadi bagian dari strategi Pelindo dalam menjaga kelancaran logistik, terutama pada periode puncak menjelang Lebaran.
Pelayanan 24 Jam Selama Libur Lebaran
Selama periode libur Lebaran, operasional terminal peti kemas tetap berlangsung selama 24 jam setiap hari dalam sepekan penuh. Upaya ini memastikan aktivitas bongkar muat tetap berjalan lancar tanpa gangguan, meskipun volume barang meningkat secara drastis.
Keberlangsungan operasional penuh waktu ini juga menjadi bentuk kesiapsiagaan Pelindo dalam mendukung kelancaran distribusi logistik nasional.
Dengan strategi ini, proses pengiriman barang ke wilayah timur Indonesia tetap terjaga, sekaligus membantu mencegah penumpukan di lapangan terminal.
Langkah-langkah yang diterapkan Pelindo, mulai dari pengalihan gudang, migrasi kontainer, hingga optimalisasi sistem operasi terminal, menunjukkan kesiapan infrastruktur logistik menghadapi puncak arus barang Lebaran.
Strategi ini menjadi contoh sinergi antara pelaku industri logistik dan otoritas pelabuhan dalam mengelola arus barang secara efisien.
Pentingnya Perencanaan Distribusi Logistik
Prediksi lonjakan arus logistik menekankan pentingnya perencanaan distribusi sejak awal. Semua pihak terkait, mulai dari importir, eksportir, operator terminal, hingga pengemudi transportasi darat, harus menyiapkan strategi matang agar arus barang tetap lancar.
Dengan koordinasi yang baik, potensi penumpukan di terminal dapat diminimalkan. Hal ini sekaligus menjaga kelancaran pasokan barang kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran. Optimalisasi layanan juga mendukung daya saing pelabuhan dan industri logistik Jawa Timur di tingkat nasional maupun regional.
Pelindo Surabaya membuktikan bahwa kesiapan infrastruktur, manajemen operasional, dan koordinasi antar pihak menjadi faktor kunci untuk menjaga kelancaran logistik, meskipun menghadapi volume barang yang meningkat drastis pada periode tertentu.