Penderita Diabetes Melitus Tetap Aman Ibadah Puasa dengan Persiapan Medis Tepat

Minggu, 22 Februari 2026 | 10:48:37 WIB
Penderita Diabetes Melitus Tetap Aman Ibadah Puasa dengan Persiapan Medis Tepat

JAKARTA - Penderita diabetes melitus (DM) masih bertanya-tanya apakah aman menjalankan ibadah puasa Ramadan. Menurut dokter spesialis penyakit dalam Pugud Samodro, penderita diabetes melitus tetap bisa menjalani ibadah puasa dengan aman, asalkan melakukan persiapan yang matang, disiplin dalam pengaturan pola makan, serta berada di bawah pengawasan tenaga medis.

Persiapan Kesehatan Sebelum Ramadan

Sebelum memasuki bulan Ramadan, penting bagi pasien diabetes untuk melakukan evaluasi kondisi kesehatan. Pugud menekankan bahwa pemeriksaan awal, termasuk menilai kestabilan gula darah dan dosis obat, sebaiknya dilakukan satu hingga dua bulan sebelum Ramadan dimulai. Hal ini bertujuan agar pasien dapat menyesuaikan jadwal dan dosis obat mereka sesuai kebutuhan selama puasa.

Menurutnya, penderita yang gula darahnya terkontrol, tidak sering mengalami hipoglikemia, tidak memiliki komplikasi berat, dan taat terhadap konsumsi obat atau insulin berpotensi aman berpuasa. Sebaliknya, puasa tidak dianjurkan untuk pasien yang gula darahnya sangat tidak stabil, sering mengalami hipoglikemia berat, mengidap penyakit ginjal stadium lanjut, penyakit jantung berat, stroke baru saja terjadi, serta diabetes pada kehamilan.

Pengaturan Pola Makan Selama Puasa

Perubahan pola makan pada penderita diabetes memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas gula darah. Pugud menyarankan pasien diabetes untuk tidak melewatkan sahur, karena makanan pada sahur berperan penting dalam menjaga kestabilan gula darah sepanjang hari. Menu sahur idealnya terdiri atas karbohidrat kompleks, protein, sayuran, serta lemak sehat, sekaligus menghindari makanan manis berlebihan dan gorengan yang bisa memicu lonjakan gula darah.

Saat berbuka, pasien dianjurkan memulai dengan air putih dan kurma secukupnya, kemudian melanjutkan dengan makanan secara bertahap. Makanan yang kaya sayuran dan protein sangat dianjurkan, sementara minuman tinggi gula harus dibatasi. Selain itu, kebutuhan cairan tubuh tetap harus dipenuhi dengan meminum sedikitnya delapan gelas air dari waktu berbuka hingga sahur, dan hindari konsumsi kopi atau teh berlebihan.

Pemantauan Gula Darah yang Konsisten

Pemantauan gula darah secara mandiri selama berpuasa menjadi aspek yang tidak kalah penting. Menurut Pugud, pemeriksaan gula darah sendiri tidak membatalkan puasa dan perlu dilakukan secara rutin untuk memastikan kadar gula tetap dalam batas aman. Jika indikasi gula darah sudah berada di bawah 70 mg/dL atau di atas 300 mg/dL, pasien dianjurkan mengakhiri puasanya demi menjaga keselamatan kesehatan.

Aktivitas Fisik dan Jalan Santai

Aktivitas fisik ringan juga dianjurkan oleh dokter untuk membantu metabolisme tubuh agar tetap optimal selama berpuasa. Berjalan santai setelah berbuka atau setelah tarawih sangat dianjurkan sebagai aktivitas ringan yang dapat mendukung proses metabolisme. Sebaliknya, olahraga berat di siang hari saat berpuasa sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko ketidakseimbangan gula darah.

Tanda Bahaya yang Wajib Diwaspadai

Penting bagi penderita diabetes yang menjalankan puasa untuk mengenali tanda-tanda bahaya yang mengindikasikan kondisi tidak aman. Tanda-tanda seperti lemas berat, pusing hebat, gemetar, atau berkeringat dingin bisa menjadi indikasi hipoglikemia atau ketidakseimbangan gula darah yang berpotensi berbahaya. Jika gejala tersebut muncul, pasien harus segera menghentikan puasa dan berkonsultasi dengan tenaga medis.

Pugud juga menambahkan, jika puasa dijalankan dengan benar, ibadah ini tidak hanya aman tetapi juga bisa memberikan manfaat bagi penyandang diabetes. Beberapa manfaat yang bisa dirasakan antara lain membantu pengendalian berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, serta memperbaiki metabolisme tubuh, terutama bila dukungan keluarga turut membantu dalam menjaga kepatuhan terhadap perawatan.

Dengan demikian, meskipun diabetes melitus merupakan kondisi kesehatan yang serius dan kompleks, penderita tetap bisa melaksanakan ibadah puasa dengan aman selama mereka mematuhi anjuran medis dan disiplin dalam pengaturan gaya hidup selama Ramadan.

Terkini