Defisit Migas Jadi Biang Kerok Neraca Perdagangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 04:15:01 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan angka defisit senilai 0,45 miliar dollar AS atau setara kurang lebih Rp 8,14 triliun pada Juni 2026 (menggunakan asumsi kurs Rp 18.087 per dollar AS). (Foto: NET)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan angka defisit senilai 0,45 miliar dollar AS atau setara kurang lebih Rp 8,14 triliun pada Juni 2026 (menggunakan asumsi kurs Rp 18.087 per dollar AS).

Kondisi tekor tersebut utamanya didorong oleh performa perdagangan komoditas minyak dan gas (migas) yang masih membukukan rapor merah yang cukup dalam.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan bahwa angka merah perdagangan migas pada periode Juni 2026 menyentuh angka 3,49 miliar dollar AS atau mendekati Rp 63,12 triliun.

"Defisit pada bulan Juni tahun 2026 terutama disebabkan oleh defisit pada komoditas migas yaitu defisit sebesar 3,49 miliar dollar AS dengan komoditas utama penyumbang defisit pada migas yaitu hasil minyak dan juga minyak mentah," ujar Ateng dalam rilis BPS di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Kendati sektor migas terpuruk, neraca perdagangan untuk komoditas nonmigas terpantau tetap mengantongi surplus sebesar 3,04 miliar dollar AS atau setara kisaran Rp 54,99 triliun.

Berdasarkan pemaparan Ateng, surplus tersebut utamanya ditopang oleh komoditas lemak serta minyak hewani ataupun nabati (HS15), golongan bahan bakar mineral (HS27), serta komoditas besi dan baja (HS72).

"Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas nonmigas tercatat surplus sebesar 3,04 miliar dollar AS. Adapun komoditas penyumbang surplus utama yaitu lemak dan minyak hewani atau nabati di HS15 serta bahan bakar mineral HS27 dan juga besi dan baja atau HS72," kata dia.

Meskipun sempat membukukan angka defisit pada bulan Juni, secara akumulatif posisi neraca perdagangan Indonesia sepanjang rentang waktu Januari hingga Juni 2026 nyatanya masih menyisakan surplus senilai 3,58 miliar dollar AS atau sekitar Rp 64,75 triliun.

Pencapaian surplus itu secara keseluruhan ditopang oleh surplus sektor nonmigas yang mencapai 19,35 miliar dollar AS atau setara kisaran Rp 349,98 triliun.

Di sisi lain, sektor perdagangan migas secara kumulatif masih mengalami kerugian berupa defisit sebesar 15,77 miliar dollar AS atau sekitar Rp 285,03 triliun.

“Surplus sepanjang periode Januari-Juni 2026 ditopang surplus komoditas nonmigas 19,35 miliar dollar AS, sementara komoditas migas masih mengalami defisit 15,77 miliar dollar AS,” jelas Ateng.

Tags

Terkini

Barcelona Tunggu Tawaran PSG untuk Torres, Incar Rp 1 T

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:39:02 WIB

Xabi Alonso Lupakan Masa Lalu, Fokus Latih Chelsea

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:36:02 WIB

Jadwal MotoGP Inggris 2026 dan Klasemen Terbaru Pekan Ini

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:34:31 WIB

Waspadai 7 Tanda Kampas Kopling Mobil Habis dan Biayanya

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:30:01 WIB

Persib Siap Hadapi Persija di Semifinal Piala Presiden 2026

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:28:31 WIB