Ragam Respons Pasar: IHSG Koreksi, Rupiah Naik Tipis

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:14:32 WIB
IHSG Melemah, Rupiah Menguat Usai Inflasi dan PMI Dirilis [FOTO: NET].

JAKARTA – Pasar menunjukkan respons yang berbeda terhadap rilis data inflasi dan PMI Manufaktur Indonesia pada Juli 2026. Kondisi tersebut tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah, sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS justru menguat.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG pada penutupan sesi I perdagangan hari ini turun tipis 0,03% ke posisi 6.234,29. Selama sesi berlangsung, indeks bergerak di kisaran 6.213,35 hingga 6.273,33.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 333 saham menguat, 315 saham melemah, dan 315 saham lainnya tidak mengalami perubahan.

Sejumlah saham perbankan nasional mencatatkan pelemahan sepanjang sesi I perdagangan. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun 0,72% menjadi Rp4.160, disusul PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang melemah 0,79% ke Rp6.275, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) turun 0,28% ke Rp3.520, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang terkoreksi 0,99% ke Rp3.010.

Sebaliknya, sejumlah saham mencatatkan penguatan, seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) yang melonjak 15,11% ke Rp1.790, PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) naik 5,59% ke Rp945, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang menguat 3,66% ke Rp4.250.

Di sisi lain, data RTI Infokom menunjukkan nilai tukar rupiah berada di level Rp17.984 per dolar AS atau menguat 0,10%. Sejak awal perdagangan, rupiah sempat bergerak pada rentang Rp18.050 hingga Rp17.960 per dolar AS.

Posisi tersebut juga mencerminkan apresiasi sebesar 0,55% dibandingkan dengan perdagangan sepekan sebelumnya.

Mengacu pada laporan S&P Global, Indonesia Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) meningkat menjadi 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni. Capaian di atas level 50 menandakan kondisi operasional sektor manufaktur kembali memasuki fase ekspansi pada awal kuartal III/2026.

Perbaikan itu ditopang oleh kembali tumbuhnya volume produksi setelah selama empat bulan mengalami kontraksi. Meski demikian, laju pertumbuhannya masih tergolong terbatas.

S&P Global menyebut peningkatan produksi didorong oleh membaiknya permintaan serta meningkatnya kepercayaan pelanggan. Namun, kenaikan harga bahan baku masih menjadi faktor yang membatasi laju ekspansi sektor manufaktur.

“Data survei bulan Juli mengindikasikan peningkat balik pada volume produksi di sektor manufaktur Indonesia, sebagian terkait dengan stabilnya penerimaan pesanan baru,” ujar Usamah Bhatti, Ekonom di S&P Global Market Intelligence dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan pada Juli 2026 mencapai 2,88% secara year-on-year (YoY). Dengan demikian, laju inflasi tahunan melambat dibandingkan Juni 2026 yang tercatat sebesar 3,3% (YoY).

Inflasi tahunan terjadi seiring kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tertinggi berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9,04% (YoY), terutama dipicu oleh kenaikan harga emas.

"Kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi year-on-year sebesar 9,04% dengan andil inflasi 0,61%. Inflasi kelompok ini terutama terjadi pada kelompok emas perhiasan," terang Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono pada konferensi pers, Senin (3/8/2026).

Terkini