Strategi Ritel Andalkan Ekosistem Kawasan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:36:31 WIB
Sektor ritel saat ini sudah tidak lagi semata-mata bergantung pada keramaian pengunjung, melainkan memerlukan suatu kawasan yang memiliki ekosistem menyeluruh demi menghadirkan kunjungan yang berkesinambungan. (Foto: NET)

JAKARTA — Sektor ritel saat ini sudah tidak lagi semata-mata bergantung pada keramaian pengunjung, melainkan memerlukan suatu kawasan yang memiliki ekosistem menyeluruh demi menghadirkan kunjungan yang berkesinambungan. 

Penerapan konsep mixed-use yang menggabungkan area hunian, komersial, serta ruang terbuka diprediksi bakal semakin menjadi daya tarik utama bagi industri ritel di masa mendatang.

Head of Research Services Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengungkapkan bahwa pusat perbelanjaan kini bertransformasi menjadi pusat gaya hidup lewat kurasi penyewa, penyelenggaraan berbagai acara, serta penyediaan ruang komunal yang menghadirkan pengalaman yang tidak bisa didapatkan melalui belanja secara daring.

“Mal-mal semakin berperan sebagai pusat gaya hidup dengan penyewa yang lebih terkurasi, acara yang beragam, serta ruang sosial yang tidak tergantikan oleh platform online,” ujar Ferry dalam paparan Quarterly Property Market Report Q1 2026 sektor ritel Jakarta.

Dinamika penyewaan ritel premium di Jakarta tetap berjalan meskipun situasi pasar pada kuartal I 2026 menunjukkan variasi yang cukup beragam. 

Berhentinya operasional salah satu department store penting di Mal Kelapa Gading 1 menyebabkan tingkat kekosongan pada pusat perbelanjaan kelas atas tersebut naik menjadi 4,2%. 

Di sisi lain, ekspansi dari merek-merek anyar terus menunjukkan perkembangan, khususnya pada bidang makanan dan minuman serta ritel mewah.

Menurut Ferry, para pelaku bisnis masih melihat adanya potensi besar di Indonesia, namun kini mereka bersikap jauh lebih selektif dalam menentukan titik lokasi, luasan gerai, serta format usaha yang akan dijalankan. 

Ia mengamati bahwa sektor makanan dan minuman tetap memegang peranan sebagai motor penggerak utama bagi ritel, yang kemudian disusul oleh peningkatan pada kategori olahraga dan kebugaran seiring tingginya antusiasme masyarakat terhadap gaya hidup sehat.

Pergeseran kebiasaan pembeli turut memicu para peritel untuk lebih mengedepankan pengalaman langsung ketimbang sekadar menawarkan produk dagangan. 

“Peritel menyesuaikan strategi, mulai dari ukuran gerai hingga pemilihan lokasi dengan traffic berkualitas,” kata Ferry.

Ferry menambahkan bahwa keramaian semata saat ini belum mampu menjamin kelangsungan jangka panjang dari suatu usaha ritel. Para pelaku industri memerlukan kawasan yang sanggup mendatangkan konsumen dengan kebutuhan yang relevan, tingkat kunjungan yang sering, serta durasi singgah yang lebih lama.

Tingginya permintaan terhadap ruang komersial bermutu tinggi terjadi di tengah terbatasnya ketersediaan mal premium. 

Sepanjang kuartal I 2026, tercatat tidak ada penambahan mal mewah baru di wilayah Jakarta, sementara pasokan di masa mendatang hanya bersumber dari dua proyek perluasan saja, yakni pusat perbelanjaan Kota Kasablangka seluas 56.000 meter persegi pada tahun 2029 serta Gandaria City seluas 12.000 meter persegi pada tahun 2030.

Kondisi pasokan yang terbatas ini memicu kenaikan tarif sewa mal premium sebesar 1,09% secara kuartalan, terutama pada pusat perbelanjaan yang memiliki basis pengunjung kuat serta ekosistem penyewa yang solid. 

Walau belum tercatat adanya transaksi penanaman modal di sektor ritel Jakarta pada kurun waktu tersebut, berbagai merek internasional tetap melanjutkan ekspansi melalui skema kerja sama bersama kelompok ritel domestik.

Perkembangan kawasan terpadu tampak nyata pada pembangunan Serpong CBD yang digarap oleh Summarecon Serpong, di mana area ini memadukan fungsi hunian, sarana pendidikan, ruang terbuka, kuliner, fasilitas olahraga, hingga sarana mobilitas.

 Hingga kini, kawasan tersebut telah ditempati oleh lebih dari 12.000 keluarga serta didukung oleh sekitar 2.000 unit ruko beserta berbagai titik destinasi pendukung.

Kekuatan ekosistem ini akan semakin dioptimalkan melalui kehadiran The Hood, yakni sebuah area komersial berkonsep lakeside retail neighborhood dengan luas sekitar 10 hektare yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Desember 2026 dengan melibatkan lebih dari 50 penyewa. 

Tidak hanya itu, Summarecon Serpong juga mempersiapkan Strozzi Commercial di kawasan Symphonia Boulevard yang letaknya terhubung dengan The Hood dalam jarak tempuh jalan kaki sekitar lima menit. 

Koridor tersebut juga bakal didukung oleh kehadiran Sekolah Ekayana Genta Bangsa yang mulai beroperasi pada Juli 2026, sehingga mampu mendongkrak aktivitas harian di kawasan itu, khususnya saat hari kerja.

Wilayah tersebut pun terhubung langsung dengan SQP Hub serta Zora SPKLU Signature, yang tercatat melayani sekitar 400 kendaraan setiap harinya berdasarkan laporan pihak pengembang. 

Kegiatan pengisian daya kendaraan listrik ini menumbuhkan pola kunjungan anyar karena para pengguna memanfaatkan waktu selama proses pengisian daya berlangsung, sehingga menciptakan peluang emas bagi sektor kuliner, ritel kebutuhan sehari-hari, layanan personal, dan berbagai jasa lainnya.

Executive Director Summarecon Serpong, Albert Luhur, mengutarakan bahwa para pelaku usaha kini tidak sekadar mempertimbangkan aspek strategis suatu lokasi, tetapi turut mencermati mutu aktivitas yang ada di dalam kawasan tersebut. 

Baginya, perpaduan berbagai fungsi mulai dari tempat tinggal, sarana belajar, area bekerja, fasilitas olahraga, hingga rekreasi menjadi elemen krusial dalam merintis ekosistem bisnis yang berkesinambungan.

“Ketika orang datang untuk tinggal, belajar, bekerja, berolahraga, atau sekadar menghabiskan waktu, aktivitas bisnis biasanya ikut terbentuk. Itu yang terus kami bangun di Serpong CBD,” ujar Albert dalam keterangannya, Sabtu (1/8/2026).

Strozzi Commercial menyediakan berbagai pilihan unit berdimensi 5 x 16 meter serta 7 x 16 meter yang dirancang secara khusus untuk mengakomodasi beragam jenis usaha, mulai dari kuliner, ritel, kesehatan dan kebugaran (wellness), hingga layanan profesional. 

Setiap unit telah dilengkapi dengan fasilitas mezanin, didukung akses jalan raya dengan lebar ROW 36 meter dan 32 meter, serta penerapan konsep parkir dua tingkat (double-layer parking).

Pihak pengembang turut memberikan keleluasaan berupa opsi serah terima kondisi dasar (bare) maupun siap pakai (finish), sehingga para penyewa dapat leluasa menyesuaikan rancangan interior serta spesifikasi operasional usaha mereka. 

Dipasarkan dengan kisaran harga mulai sekitar Rp4 miliar, Strozzi Commercial hadir sebagai bagian integral dari ekosistem Serpong CBD yang menyatukan unsur aktivitas, kemudahan akses, serta beragam destinasi dalam satu kawasan terpadu.

Terkini

Cara Introvert Membangun Networking dengan Percaya Diri

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 21:21:31 WIB

7 Menu Meal Prep Seminggu, Hemat dengan Budget Rp200 Ribu

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 21:16:31 WIB

Cara Membuat Kue Talam Ubi yang Lembut dan Legit

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 21:11:31 WIB

Cara Membuat Peyek Udang Renyah, Gurih, dan Tipis

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 21:07:01 WIB