Bisnis Bibit Lele di Badung Bali Berkembang Pesat Capai 360.000 Ekor

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:53:31 WIB
Laris Manis Bisnis Bibit Lele di Bali, Produksi Tembus 360.000 Ekor [FOTO: NET].

JAKARTA - Lonjakan tingkat konsumsi ikan lele di wilayah Bali mendatangkan keuntungan tersendiri bagi para pelaku sentra usaha pembibitan lele di Kabupaten Badung. Salah satu pengusaha pembibitan lele lokal yang berasal dari Banjar Panglan Kelod, Desa Kapal, Badung, yakni I Nyoman Miasa, menerangkan bahwa pihaknya berhasil memproduksi bibit lele hingga mencapai angka 36.000 ekor dalam satu putaran siklus produksi. 

Ia merintis usahanya sejak tahun 2017 yang diawali berbekal modal mandiri pribadi senilai kisaran Rp17 juta.

Miasa mengawali langkah usahanya dengan mendirikan fasilitas kolam terpal guna membudidayakan ikan lele jenis Sangkuriang. Dirinya sengaja menjatuhkan pilihan fokus pada sektor pembibitan karena rentang waktu masa produksinya yang jauh lebih singkat jika dibandingkan dengan metode pembesaran ikan, sementara di sisi lain tingkat permintaan bibit dari kalangan pembudidaya ikan terpantau sangat stabil.

Pada fase awal merintis usaha, jangkauan distribusi pemasaran bibit lele tersebut masih terbatas di seputar wilayah sekitar saja. Kendati demikian, seiring dengan peningkatan standar mutu kualitas produksi serta bertambahnya jumlah konsumen, wilayah cakupan pemasarannya kian meluas dari waktu ke waktu. 

Saat ini, komoditas bibit lele hasil budi dayanya telah berhasil dipasarkan ke berbagai wilayah kabupaten di Bali, seperti Gianyar, Klungkung, Tabanan, hingga kawasan Singaraja.

Kini, dalam satu kali siklus masa produksi, Miasa sanggup menghasilkan pasokan bibit lele sekitar 360 ribu ekor. Produk benih lele tersebut biasanya dipasarkan pada kisaran ukuran pertumbuhan 4 sampai 9 sentimeter kepada para mitra pembudidaya untuk dibesarkan lebih lanjut hingga siap dikonsumsi masyarakat.

Berdasarkan keterangan Miasa, sektor usaha pembibitan ikan ini menuntut ketersediaan alokasi modal kerja yang tergolong cukup besar. Di samping anggaran pembangunan infrastruktur kolam, porsi beban biaya operasional terbesar didominasi oleh kebutuhan pengadaan pakan. Pada tahap awal pertumbuhan, benih lele yang baru menetas wajib diberikan asupan pakan berupa cacing sutra selama kurun waktu kira-kira 15 hingga 20 hari sebelum akhirnya beralih menggunakan pakan jenis pelet pabrikan.

Dalam setiap satu siklus proses produksi berjalan, total kebutuhan anggaran untuk pengadaan cacing sutra dapat menghabiskan dana sekitar Rp88,7 juta, sementara untuk pos biaya kebutuhan pelet memakan kisaran anggaran sebesar Rp15,3 juta. Di sisi lain, faktor kebersihan dan kualitas air kolam pun wajib senantiasa dikontrol secara ketat menggunakan pasokan air sumur serta rutin mengganti air kolam secara berkala guna mencegah benih ikan terserang wabah penyakit.

Seiring dengan eskalasi kapasitas produksi serta tingginya lonjakan permintaan dari pasar, kebutuhan akan ketersediaan modal usaha turut mengalami peningkatan. Guna memperkuat struktur modal kerjanya, Miasa memilih memanfaatkan fasilitas program pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disediakan oleh pihak BRI. Ia mengawali fasilitas pinjaman permodalan tersebut dari plafon awal sebesar Rp25 juta, yang kemudian secara bertahap ditingkatkan hingga mencapai nominal Rp100 juta seiring dengan perkembangan skala usahanya.

Tambahan suntikan dana modal tersebut dimanfaatkan secara optimal guna menunjang kelancaran operasional harian, terkhusus untuk pembelian pasokan pakan, perawatan fasilitas kolam, serta menjaga stabilitas proses produksi agar pesanan bibit dari para pelanggan di berbagai daerah dapat senantiasa terlayani dengan baik.

"Kebutuhan modal di usaha pembibitan memang cukup besar, terutama untuk pakan karena itu yang paling banyak menyerap biaya. Dengan adanya KUR BRI, saya lebih terbantu untuk menambah modal kerja sehingga produksi bisa terus berjalan dan permintaan pelanggan tetap bisa kami penuhi. Dari awal pinjam Rp25 juta sampai sekarang plafonnya meningkat menjadi Rp100 juta karena usaha juga terus berkembang," ujar Miasa, Jumat (31/7/2026).

Ia menaruh harapan besar agar usaha yang dirintisnya ini dapat terus tumbuh berkembang secara konsisten, sehingga kapasitas volume produksi semakin meningkat dan jangkauan sebaran pasar bibit lele dapat merambah ke lebih banyak wilayah di Pulau Bali.

Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar Hery Noercahya mengemukakan bahwa kehadiran akses layanan pembiayaan perbankan mampu bertindak sebagai instrumen stimulan bagi para pelaku UMKM sektor produktif untuk mendongkrak kapasitas bisnis mereka.

"KUR BRI hadir untuk memberikan akses pembiayaan kepada pelaku UMKM yang memiliki usaha produktif dan prospektif. Kami berharap pembiayaan ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat modal kerja, meningkatkan produktivitas, serta memperluas kesempatan usaha sehingga UMKM dapat tumbuh secara berkelanjutan," ujar Hery.

Menurut pandangan Hery, sektor bidang perikanan budi daya merupakan salah satu bidang usaha produktif yang menyimpan potensi ekonomi sangat besar karena perannya yang krusial dalam menopang rantai pasok ketahanan pangan sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat luas.

Terkini

Harga Buyback Emas Antam Turun Jadi Rp2.368.000 per Gram

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:39:32 WIB

Strategi Ritel Andalkan Ekosistem Kawasan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:36:31 WIB