Rugi MAPB Pengelola Starbucks Naik Jadi Rp121,50 M

Kamis, 30 Juli 2026 | 01:06:32 WIB
Pengelola ratusan gerai Starbucks di Tanah Air, PT Map Boga Adiperkasa Tbk. (MAPB) membukukan rugi yang kian membesar hingga mencapai Rp121,50 miliar sepanjang periode Januari—Juni 2026. (Foto: NET)

JAKARTA – Pengelola ratusan gerai Starbucks di Tanah Air, PT Map Boga Adiperkasa Tbk. (MAPB) membukukan rugi yang kian membesar hingga mencapai Rp121,50 miliar sepanjang periode Januari—Juni 2026.

Berdasarkan laporan keuangan, MAPB sebenarnya mampu mencatatkan pendapatan yang mengalami pertumbuhan 9,88% YoY menjadi Rp1,67 triliun per Juni 2026. Angka tersebut meningkat dari Rp1,52 triliun pada periode yang sama tahun 2025.

Segmen penjualan MAPB juga terpantau masih tumbuh, di mana segmen minuman menyumbang Rp934,48 miliar, segmen makanan menyumbang Rp644,88 miliar, serta segmen lain-lain memberikan kontribusi sebesar Rp97,50 miliar.

Seiring dengan meningkatnya segmen penjualan tersebut, MAPB turut mencatatkan beban pokok penjualan yang ikut membengkak menjadi Rp537,40 miliar per Juni 2026. Realisasi ini naik dari Rp463,83 miliar pada periode yang sama tahun 2025.

Akibatnya, laba kotor perseroan tercatat hanya senilai Rp1,13 triliun sepanjang Januari—Juni 2026, yang masih bertumbuh dari posisi Rp1,05 triliun pada periode yang sama tahun 2025.

Kendati demikian, sejumlah beban serta kerugian akibat pelemahan nilai tukar rupiah membuat MAPB kembali mengalami kerugian pada periode ini. Bahkan, rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau rugi bersih MAPB melonjak menjadi Rp121,50 miliar.

Pencapaian ini menunjukkan peningkatan dari rugi sebesar Rp80,20 miliar pada periode yang sama tahun 2025.

Dari segi neraca keuangan, MAPB juga mencatatkan total aset yang mengalami penyusutan dari Rp2,81 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp2,62 triliun pada periode Juni 2026.

Meskipun demikian, MAPB membukukan jumlah liabilitas yang mengecil menjadi Rp1,34 triliun per Juni 2026, dari sebelumnya Rp1,41 triliun pada Desember 2025. Kendati demikian, ekuitas perseroan pun ikut menyusut menjadi Rp1,27 triliun pada Juni 2026.

Terkini