JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Holding Industri Pertambangan, MIND ID bersama anak usaha dan mitra BUMN mempercepat pembangunan megaproyek hilirisasi bauksit–alumina–aluminium di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp104,55 triliun, yang dipandang memberi dampak luas bagi perekonomian nasional.
Proyek Hilirisasi Terintegrasi di Kalbar
Proyek strategis ini mencakup pembangunan fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina dan peleburan aluminium terpadu yang belum pernah dibangun dalam skala besar di Indonesia, termasuk Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) dan smelter aluminium baru dengan kapasitas produksi besar.
Pembangunan ditandai dengan prosesi groundbreaking beberapa fasilitas utama di Mempawah pada awal Februari 2026, menandai realisasi nyata dari agenda hilirisasi yang menjadi fokus pemerintah.
Dampak Ekonomi dan Strategis Nasional
Para pemimpin proyek menjelaskan bahwa pengolahan bauksit menjadi produk hilir seperti alumina dan aluminium dapat mendorong nilai tambah yang signifikan — hingga puluhan kali lipat dari nilai bahan mentahnya — yang berpotensi meningkatkan penerimaan devisa nasional dan mengurangi ketergantungan impor bahan baku industri manufaktur.
Kalangan pelaku industri melihat proyek ini sebagai wujud konkret strategi pemerintahan dalam memperkuat kedaulatan ekonomi dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai global, serta memperluas basis industri berbasis sumber daya alam.
Kontribusi terhadap Pemerataan Kesejahteraan Daerah
Tidak hanya bernilai strategis tingkat nasional, proyek hilirisasi juga diproyeksikan memberi efek berganda di tingkat lokal, termasuk penyerapan tenaga kerja dan munculnya peluang usaha baru di sekitar kawasan industri.
Bupati Mempawah menyatakan proyek ini mampu menjadi motor transformasi ekonomi daerah yang sebelumnya banyak bergantung pada ekspor bahan mentah, serta menarik pergerakan aktivitas ekonomi lintas sektor seperti jasa dan usaha pendukung lokal.
Target Penyelesaian dan Sinergi Badan Usaha
Menurut pernyataan pemangku kepentingan, pembangunan proyek ini ditargetkan rampung pada tahun 2028, dengan penyiapan infrastruktur energi dan fasilitas hilir secara terpadu untuk mendukung operasional penuh.
Proyek ini melibatkan kolaborasi sejumlah BUMN besar seperti PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk memastikan pasokan energi dan bahan baku yang andal selama fase konstruksi hingga operasional.
Tantangan dan Peluang Jangka Panjang
Meski proyek ini diharapkan membawa beragam manfaat, tantangan seperti kesiapan sumber daya manusia lokal, kebutuhan infrastruktur pendukung, hingga kesinambungan pasokan energi menjadi fokus pembahasan lanjutan antara pemerintah, BUMN, dan pemangku kepentingan.
Namun demikian, proyek hilirisasi bauksit–alumina–aluminium di Kalimantan Barat dipandang sebagai tonggak baru dalam pengembangan industri hilir Indonesia yang lebih berdaya saing global, sekaligus sebagai langkah besar menuju industrialisasi berkelanjutan.
Dengan rangkaian manfaatnya — mulai dari peningkatan nilai tambah industri, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan ekonomi daerah dan nasional — megaproyek ini dinilai sebagai salah satu inisiatif strategis utama yang akan membawa transformasi signifikan dalam struktur ekonomi Indonesia.